Sheikh Mohammed juga memperingatkan bahwa negara-negara kecil semakin sering menjadi pihak pertama yang terdampak konflik, meskipun bukan mereka yang memicu pertikaian tersebut.

Ia mengakui negara-negara dalam kelompok Thriving States tidak dapat menyelesaikan seluruh tantangan global secara mandiri ataupun menggantikan peran negara-negara besar.

“Namun, dengan menggabungkan keahlian, kemampuan ekonomi, dan jaringan diplomatik mereka, negara-negara ini dapat membantu membangun serta menjaga rantai perdamaian dan stabilitas bagi dunia,” katanya.

Ia menegaskan bahwa negara-negara kecil tidak dapat sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab atas stabilitas mereka kepada pihak lain. Menurutnya, negara-negara tersebut juga perlu mengambil peran aktif dalam membentuk kondisi keamanan internasional.

“Sejarah dipenuhi oleh jejak mereka yang hanya menjadi penonton pasif; sejarah hanya merayakan mereka yang bertindak untuk membentuk jalannya peristiwa,” ujar dia.

Usulan Thriving States tersebut menekankan pentingnya kerja sama antarnegeri melalui penggabungan kemampuan ekonomi, pengalaman, dan jaringan diplomasi. Gagasan ini disampaikan sebagai konsep kolaborasi, bukan pengumuman pembentukan aliansi atau organisasi internasional baru.