JAKARTA – Menteri Luar Negeri sekaligus Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, mengusulkan konsep Thriving States sebagai sebutan bagi kelompok negara kecil yang mampu mengubah keterbatasan wilayah menjadi keunggulan. Gagasan tersebut disampaikan untuk mendorong negara-negara itu mengambil peran kolektif dalam menjaga perdamaian dan stabilitas dunia.

Usulan tersebut disampaikan Sheikh Mohammed dalam pidatonya di Oxford Union, Inggris, pada Jumat (6/11/2026). Ia menggambarkan Thriving States sebagai negara-negara yang tangkas, stabil, makmur, dan tepercaya serta memiliki kontribusi penting terhadap perdamaian dan kemakmuran global

“Oleh karena itu, saya ingin mengusulkan sebutan yang berbeda untuk kelompok negara tertentu: negara-negara yang tangkas, stabil, makmur, dan tepercaya, yang telah mengubah ukuran wilayah mereka menjadi sebuah keunggulan serta menjadi kontributor penting bagi perdamaian dan kemakmuran global. Saya menyebut mereka sebagai ‘Negara-Negara yang Berkembang Pesat’,” ujar Sheikh Mohammed, seperti dikutip Anadolu Agency.

Ia menjelaskan, negara-negara yang masuk dalam konsep Thriving States telah menjadi kontributor penting bagi kemakmuran global. Menurutnya, negara-negara tersebut juga memiliki peluang untuk mengambil peran lebih besar dalam menjaga perdamaian internasional.

Peran tersebut, kata Sheikh Mohammed, tidak cukup dilakukan melalui inisiatif masing-masing negara. Diperlukan pendekatan kolektif, terstruktur, dan berkelanjutan agar kontribusi negara-negara kecil dapat memberikan dampak lebih luas.

Sheikh Mohammed juga memperingatkan bahwa negara-negara kecil semakin sering menjadi pihak pertama yang terdampak konflik, meskipun bukan mereka yang memicu pertikaian tersebut.

Ia mengakui negara-negara dalam kelompok Thriving States tidak dapat menyelesaikan seluruh tantangan global secara mandiri ataupun menggantikan peran negara-negara besar.

“Namun, dengan menggabungkan keahlian, kemampuan ekonomi, dan jaringan diplomatik mereka, negara-negara ini dapat membantu membangun serta menjaga rantai perdamaian dan stabilitas bagi dunia,” katanya.

Ia menegaskan bahwa negara-negara kecil tidak dapat sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab atas stabilitas mereka kepada pihak lain. Menurutnya, negara-negara tersebut juga perlu mengambil peran aktif dalam membentuk kondisi keamanan internasional.

“Sejarah dipenuhi oleh jejak mereka yang hanya menjadi penonton pasif; sejarah hanya merayakan mereka yang bertindak untuk membentuk jalannya peristiwa,” ujar dia.

Usulan Thriving States tersebut menekankan pentingnya kerja sama antarnegeri melalui penggabungan kemampuan ekonomi, pengalaman, dan jaringan diplomasi. Gagasan ini disampaikan sebagai konsep kolaborasi, bukan pengumuman pembentukan aliansi atau organisasi internasional baru.