“Adopsi EV melambat (sekitar 2024) dan hybrid tumbuh karena pemangkasan subsidi dan faktor lain, tetapi harga minyak yang lebih tinggi membuat biaya operasional EV yang lebih rendah kembali diapresiasi, dan penjualan kini tumbuh lagi,” kata Associate Director Mobility Global Yoshiaki Kawano, dikutip Nikkei Asia, Jumat (2/10).

Penjualan EV China turun, Eropa dan Asia Tenggara tumbuh

China masih menjadi penyumbang sekitar separuh penjualan kendaraan listrik global. Namun, penjualan EV di negara tersebut turun 3 persen menjadi 3,44 juta unit setelah insentif pajak dikurangi sejak Januari.

Penjualan kendaraan listrik di Amerika Utara juga turun 15 persen setelah pemerintahan Presiden Donald Trump mencabut insentif kendaraan listrik.

Sebaliknya, pasar EV di sejumlah wilayah lain mencatat pertumbuhan. Penjualan kendaraan listrik di Eropa naik 32 persen menjadi 1,81 juta unit.

Di Asia Tenggara, penjualan EV melonjak 81 persen menjadi 350 ribu unit. Sementara itu, penjualan di Oseania meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 110 ribu unit.

Menurut Asosiasi Produsen Mobil Eropa (ACEA), penjualan kendaraan listrik di 31 negara utama Eropa secara kolektif untuk pertama kalinya melampaui kendaraan bensin dalam perhitungan semester.

Nikkei Asia juga mengutip Badan Energi Internasional (IEA) yang mencatat pabrikan China seperti Geely dan BYD menguasai 60 persen penjualan global kendaraan listrik dan plug-in hybrid.

Penjualan hybrid tetap tumbuh

Di tengah pertumbuhan kendaraan listrik, kendaraan hybrid juga masih mencatat peningkatan penjualan.