Ia akhirnya meraih gelar doktor ekonomi pada 1943, ketika berusia 26 tahun.

Disertasi tersebut kemudian menjadi salah satu karya yang relevan dalam pembahasan ekonomi Indonesia pascakemerdekaan, terutama terkait sistem kredit rakyat dan dinamika ekonomi pada masa krisis.

Belajar dari Peraih Nobel Ekonomi Jan Tinbergen

Selama menempuh pendidikan di Rotterdam, Soemitro pernah belajar kepada Profesor Jan Tinbergen, ekonom yang menjadi salah satu penerima pertama Nobel Ekonomi.

Dari Tinbergen, Soemitro mempelajari pentingnya kebijakan ekonomi yang terukur, termasuk prinsip penggunaan instrumen kebijakan yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Pemikiran tersebut kemudian menjadi salah satu landasan dalam pendekatannya terhadap kebijakan ekonomi Indonesia.

Dalam buku Pelaku Berkisah, Ekonomi Indonesia 1950-an Sampai 1990-an, Soemitro menjelaskan alasan dirinya menempuh pendidikan di Rotterdam.

“Dengan pengorbanan yang besar, orang tua saya mengirimkan saya ke Rotterdam untuk belajar di Sekolah Ilmu Ekonomi Belanda (sekarang Erasmus University),” katanya.

Soemitro mengakui bahwa pada awalnya ia tidak tertarik untuk mempelajari ekonomi. Namun, keinginannya memahami persoalan di tanah air dan perkembangan dunia mendorongnya mendalami bidang tersebut.

“Tapi saya ingin mengerti apa yang terjadi di negeri saya dan dunia,” akunya.

Jejak Pendidikan dan Perjuangan Dua Tokoh Indonesia

Pengalaman pendidikan Mohammad Hatta dan Soemitro Djojohadikusumo di Belanda memperlihatkan bagaimana pendidikan di luar negeri menjadi bagian dari perjalanan intelektual sejumlah tokoh Indonesia.