Kepala Analis KCM Trade Tim Waterer menilai keputusan G7 berhasil mengurangi kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dalam jangka pendek.
Menurut dia, mulai muncul pandangan bahwa volume ekspor Arab Saudi secara bertahap kembali menuju level sebelum perang, meskipun pengiriman minyak masih membutuhkan biaya lebih tinggi melalui rute yang kurang efisien.
“Kombinasi tersebut cukup untuk menekan harga untuk saat ini, meskipun risiko kerusakan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi di sekitar kawasan Teluk belum hilang,” ujar Tim.
Aramco pangkas harga minyak untuk pasar Asia
Di tengah penurunan harga minyak dunia, Saudi Aramco secara tak terduga memangkas harga jual minyak mentah untuk pasar Asia pada November ke level terendah dalam enam tahun terakhir.
Langkah tersebut terjadi ketika pasar masih menghadapi ketidakpastian terkait pasokan minyak dari Timur Tengah.
Ketegangan geopolitik juga masih membayangi prospek pasokan ke depan. Kelompok Houthi mengklaim telah meluncurkan rudal balistik dan drone ke sejumlah fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan wilayah Khurais.
Serangan tersebut diklaim sebagai respons atas 50 serangan udara dan rudal yang dilakukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman dalam 12 jam sebelumnya.
Pada Minggu (4/10), pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi juga meluncurkan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali wilayah yang berada di bawah kendali Houthi.
OPEC+ pertahankan target produksi November
Ketidakpastian geopolitik turut memengaruhi kebijakan negara-negara produsen minyak. OPEC+ pada 4 Oktober memutuskan mempertahankan target produksi minyak untuk November. Kelompok tersebut juga menunda peninjauan kapasitas produksi yang berkaitan dengan penetapan kuota 2027 di tengah gangguan akibat konflik di Timur Tengah.

