Otoritas pemilu kemudian membatalkan suara tersebut. Tradisi semacam ini menghilang selama masa kediktatoran militer Brasil pada 1964-1985 dan kembali muncul setelah pemilihan nasional pada 1989.

Salah satu kandidat yang mencuri perhatian setelah periode tersebut adalah dokter jantung Enéas Carneiro. Ia dikenal melalui pidato cepat dan gaya bicara menggebu-gebu dalam iklan kampanye berdurasi 15 detik.

Carneiro memperoleh sekitar 360 ribu suara dalam pemilihan presiden 1989. Pada pemilu 1994, ia meraih sekitar 4,6 juta suara dan menempati posisi ketiga, di bawah Luiz Inacio Lula da Silva dan pemenang pemilu Fernando Henrique Cardoso.

Popularitas kandidat unik mencapai titik lain pada 2010 ketika Tiririca, seorang badut sirkus sekaligus komedian, memenangkan kursi Kongres untuk Sao Paulo dengan lebih dari 1,3 juta suara.

Tiririca, yang memiliki nama asli Francisco Everardo Oliveira Silva, menggunakan slogan kampanye yang menyindir peran politikus, termasuk pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya dilakukan seorang anggota kongres.

Ia kemudian menjabat selama empat periode berturut-turut dan kembali mencalonkan diri untuk periode kelima mewakili negara bagian Ceara. Pada 2022, ia memperoleh sekitar 70 ribu suara.

Kandidat Unik Bisa Berpengaruh pada Perolehan Kursi Partai

Profesor ilmu politik dari Universitas Insper di Sao Paulo, Carlos Melo, menjelaskan bahwa sistem pemilu proporsional Brasil membuat suara yang diperoleh kandidat juga dapat berkontribusi terhadap perolehan kursi partainya.