Lebih lanjut, menurutnya, mahasiswa perlu mengembalikan semangat sebagai agent of change dan agent of social control dengan memperluas perhatian terhadap persoalan di luar kampus.

“Jangan sampai kita terlalu sibuk memperjuangkan siapa yang menjadi representasi mahasiswa di dalam kampus, tetapi lupa mempertanyakan siapa yang memperjuangkan masyarakat ketika lingkungan mereka rusak. Kampus seharusnya menjadi tempat lahirnya gagasan dan gerakan yang tidak hanya berhenti di lingkungan akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.”

Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan tidak harus selalu diwujudkan melalui aksi besar. Mahasiswa dapat memulainya dengan membangun kesadaran, melakukan edukasi, mengawal kebijakan lingkungan, hingga menggunakan media sosial sebagai ruang advokasi publik.

“Mahasiswa tidak harus memilih antara peduli terhadap politik kampus atau lingkungan. Keduanya bisa berjalan beriringan. Yang perlu kita ubah adalah orientasi gerak kita. Politik kampus jangan hanya menjadi arena perebutan posisi, tetapi harus menjadi ruang untuk melahirkan gerakan yang benar-benar menjawab persoalan masyarakat.”

“Karena pada akhirnya, keberhasilan mahasiswa bukan hanya ketika mampu memenangkan sebuah kontestasi di dalam kampus, tetapi ketika suara dan gerakannya mampu memberikan dampak bagi masyarakat,” tutupnya.