Wanda Ulfia Ramadani – Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Jambi
Jambi – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi persoalan lingkungan yang perlu mendapatkan perhatian serius. Selain menyebabkan kerusakan ekosistem, karhutla juga berdampak langsung terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat akibat kabut asap yang ditimbulkan.
Dampak tersebut bahkan sempat dirasakan masyarakat Kota Jambi ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap karhutla. Kota Jambi sempat berada di peringkat pertama sebagai kota dengan tingkat polusi dan kualitas udara terburuk di Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bukan lagi sekadar persoalan ekosistem, tetapi telah menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana kepedulian mahasiswa terhadap persoalan lingkungan. Mahasiswa selama ini dikenal sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan yang diharapkan mampu menjadi kontrol sosial terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat.
Namun, realitas yang terlihat saat ini menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa justru lebih banyak memberikan perhatian terhadap dinamika politik internal kampus. Kontestasi organisasi, pemilihan ketua lembaga mahasiswa, perebutan jabatan, hingga persoalan antarorganisasi sering kali mendapatkan perhatian yang jauh lebih besar dibandingkan isu lingkungan yang dampaknya dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Politik kampus sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Justru melalui politik kampus mahasiswa dapat belajar mengenai demokrasi, kepemimpinan, representasi, serta bagaimana menyampaikan dan memperjuangkan aspirasi. Akan tetapi, jangan sampai perhatian mahasiswa berhenti pada persoalan politik di dalam lingkungan kampus saja.

