Jakarta — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan persetujuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 untuk komoditas batu bara akan diprioritaskan guna memenuhi kebutuhan pembangkit listrik di dalam negeri.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan tambahan kuota produksi yang disetujui pada semester II 2026 akan mempertimbangkan kebutuhan pasokan batu bara bagi PT PLN (Persero) dan sektor kelistrikan nasional.

“Kita sudah sampaikan bahwa revisi oke, boleh mengajukan, tetapi nanti kita sisir berapa kebutuhan PLN itu. Jadi kita hanya mengutamakan untuk, ya, kebutuhan domestik,” kata Tri usai agenda Indonesia Coal Mining Forum, Rabu (15/7).

Tambahan Produksi Diseleksi Ketat

Tri menjelaskan, setelah kebutuhan batu bara untuk PLN terpenuhi, Kementerian ESDM akan mengevaluasi kembali seluruh pengajuan revisi RKAB dari pelaku usaha.

Meski demikian, ia belum mengungkapkan besaran tambahan kuota produksi yang akan disetujui.

“Belum, belum. Nanti penambahan, yang jelas kan kita sudah tahu kira-kira kebutuhan PLN, utamanya yang medium range di angka berapa. Kan kita sudah ada, nah itu yang kita exercise untuk yang nanti,” ujarnya.

Sebelumnya, Tri juga menegaskan bahwa tambahan kuota produksi batu bara hanya akan diberikan untuk menjamin pasokan bagi PLN.

“Untuk yang batu bara (tambahan) hanya diperuntukkan untuk yang PLN. Itu saja,” kata Tri di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (10/7).

Ia mempersilakan perusahaan tambang mengajukan revisi RKAB hingga batas waktu 31 Juli 2026, namun seluruh permohonan akan diseleksi secara ketat agar tidak memicu kelebihan pasokan.

“Silakan masukin. Kalau misalnya ini tidak sesuai kan tinggal ditolak-tolakin doang. Jangan sampai ada oversupply.”

Pasokan Batu Bara untuk PLN Ditambah

Ditjen Minerba sebelumnya menugaskan badan usaha pertambangan memasok 212 juta ton batu bara untuk pembangkit listrik milik PLN dan independent power producer (IPP).

Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan kebutuhan batu bara PLN dan IPP yang diperkirakan mencapai 154 juta ton.

Hingga pertengahan Juli 2026, realisasi pengiriman batu bara ke pembangkit listrik tercatat sekitar 130,5 juta ton.

PLN Terima Tambahan Batu Bara Kalori Menengah

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengungkapkan perseroan memperoleh tambahan pasokan batu bara kalori menengah dengan spesifikasi di atas 4.500 kcal/kg sebanyak 16,8 juta ton hingga akhir 2026.

Tambahan tersebut terdiri atas 1,8 juta ton pada Juli, kemudian 3 juta ton setiap bulan mulai Agustus hingga Desember 2026.

Menurut Darmawan, tambahan pasokan tersebut berasal dari penugasan khusus Kementerian ESDM.

Ia mengakui sistem kelistrikan di Pulau Jawa sempat mengalami gangguan yang memicu pemadaman bergilir. Namun, tambahan pasokan batu bara tersebut dinilai mampu meningkatkan keandalan sistem kelistrikan.

“Ini tentu saja membuat sistem di Jawa yang tadinya memang kami mengakui ada pemadaman bergilir, sistemnya langsung meningkat menjadi jauh lebih andal,” ujar Darmawan.

Darmawan menambahkan produksi batu bara kalori rendah terus meningkat, sedangkan ketersediaan batu bara kalori menengah dan tinggi cenderung menurun. Kondisi itu mendorong PLN meminta dukungan pemerintah agar pasokan untuk pembangkit tetap terjaga.

Sementara itu, Kementerian ESDM menetapkan target produksi batu bara dalam RKAB 2026 sekitar 600 juta ton, lebih rendah dibandingkan realisasi produksi tahun 2025 yang mencapai 817,48 juta ton.