Sementara itu, Asosiasi Penerbit dan Editor Surat Kabar Jepang mencatat sirkulasi media cetak mencapai titik tertinggi pada 1997 dengan angka 53,76 juta eksemplar. Pada 2025, jumlah tersebut telah turun menjadi kurang dari setengahnya.
Banyak penulis dan penerbit di berbagai negara juga mengkhawatirkan dampak perkembangan AI terhadap industri kreatif. Sebuah studi di Inggris pada 2025 bahkan menunjukkan bahwa separuh novelis percaya AI berpotensi menggantikan karya mereka di masa depan.
Meski demikian, tren zine justru menunjukkan kebangkitan media cetak di kalangan generasi muda.
Lembaga penyiaran publik Jepang, NHK, mengutip data sebuah perusahaan riset swasta yang memperkirakan nilai pasar penerbitan independen di Jepang mencapai 150 miliar yen pada tahun yang berakhir Maret 2026. Nilai tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan empat tahun sebelumnya.
Popularitas zine juga terlihat dari berbagai pameran yang rutin digelar di Tokyo. Acara tersebut dipadati pengunjung, mayoritas dari kalangan muda, yang tertarik melihat beragam karya dalam bentuk majalah independen dengan tema dan format yang beragam.
Beberapa zine memadukan ilustrasi, fotografi, desain abstrak, hingga catatan dan monolog pribadi para kreatornya.
Salah satu pengunjung pameran, Harumi Kikuchi (22), menilai zine menawarkan perspektif yang berbeda dibandingkan platform digital.
“AI dan media sosial didorong oleh algoritma yang hanya memberi kita apa yang ingin kita lihat atau apa yang paling sesuai dengan kita,” katanya.

