Saat proses pencetakan berlangsung, para teknisi memeriksa setiap lembar hasil cetak untuk memastikan kualitas produksi tetap terjaga.

“Menurut saya, media cetak sangat terbuka. Anda bisa memberikannya kepada seseorang, Anda bisa membacanya bersama,” kata Obara.

Zine Menarik Minat Generasi Muda

Yoshihiko Okazaki dari Kyoto Shimbun Printing mengatakan layanan percetakan zine digunakan oleh berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga mereka yang berusia 70-an.

“Mengejutkan, karya [zine] ini beresonansi dengan kaum muda. Saya bahkan mendengar komentar seperti, ‘Ini menarik, justru karena ini karya lama’,” ujarnya.

Popularitas zine juga mulai dilirik toko buku besar di Jepang. Salah satunya adalah Sanseido yang berada di kawasan Jimbocho, Tokyo, yang dikenal sebagai pusat buku legendaris di Jepang.

Toko buku tersebut mulai menjual zine hampir satu tahun terakhir sebagai bagian dari upaya menjangkau pembaca baru.

“Kami merasa bahwa zine dapat menarik audiens yang berbeda dari pembaca tradisional,” kata Masato Sugiura dari Sanseido.

“Semua orang mencari sesuatu yang benar-benar sesuai dengan mereka. Pembaca mungkin lebih tertarik pada zine, yang merupakan niche dan mencakup berbagai topik yang lebih luas,” tambahnya.

Di Tengah Penurunan Industri Cetak

Dalam beberapa dekade terakhir, industri media dan penerbitan cetak di Jepang mengalami penurunan signifikan.

Penjualan buku dan majalah di Jepang dilaporkan hanya mencapai sekitar 40 persen dari puncaknya pada 1996 yang saat itu bernilai 2,6 triliun yen.