Antigen merupakan bagian aktif dalam vaksin yang bertugas memicu respons sistem kekebalan tubuh agar mampu mengenali dan melawan infeksi.
Dalam uji klinis tahap awal, vaksin diberikan kepada 39 sukarelawan sehat. Hasilnya menunjukkan vaksin aman digunakan dan berhasil memicu respons imun yang diharapkan.
Menariknya, vaksin ini tidak diberikan menggunakan jarum suntik konvensional. Peneliti menggunakan teknologi jet mikrofluida, yaitu metode penyuntikan tanpa jarum yang memanfaatkan aliran cairan bertekanan tinggi untuk menyalurkan vaksin melalui kulit.
Metode tersebut dinilai lebih cepat, praktis, dan berpotensi memudahkan pelaksanaan vaksinasi massal pada masa mendatang.
Tim peneliti menyebut ini merupakan pertama kalinya vaksin yang komponen aktifnya dirancang sepenuhnya melalui simulasi komputer berbasis AI diuji pada manusia.
Meski hasil awal menunjukkan perkembangan yang menjanjikan, para ilmuwan menegaskan bahwa vaksin masih harus melalui tahapan uji klinis lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar dan beragam sebelum dapat digunakan secara luas.
Jika pengembangan berjalan sukses, vaksin universal berbasis AI ini diharapkan mampu menjadi langkah preventif terhadap munculnya pandemi baru di masa depan.
“Jika vaksin generasi baru seperti ini dapat dikembangkan dan disiapkan sebelum wabah terjadi, jutaan nyawa dapat diselamatkan, pembatasan wilayah bisa dihindari, dan dampak ekonomi global dapat diminimalkan,” kata Faust.

