JAKARTA – Menghadapi orang terdekat yang tiba-tiba memilih diam saat terjadi masalah bukanlah hal yang mudah. Pesan yang tidak dibalas, percakapan yang dihindari, hingga konflik yang dibiarkan menggantung sering kali memicu kebingungan dan kelelahan emosional.

Dalam sebuah hubungan, sikap diam tidak selalu bermakna negatif. Sebagian orang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sebelum membahas persoalan yang sedang dihadapi. Namun, situasinya berbeda ketika diam digunakan sebagai cara untuk menghukum, mengontrol, atau membuat orang lain merasa bersalah.

Perilaku tersebut sering dikaitkan dengan istilah silent treatment, ostracism, atau stonewalling. Bentuknya bisa berupa sengaja mengabaikan seseorang, menolak berkomunikasi, atau menarik diri saat konflik berlangsung.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology menyebut silent treatment sebagai salah satu bentuk pengucilan dalam hubungan dekat. Studi tersebut menemukan bahwa perilaku ini dapat berdampak pada kesejahteraan emosional serta menurunkan kualitas hubungan, terutama jika tidak disertai komunikasi yang sehat.

Jika Anda sedang mengalaminya, berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi silent treatment secara lebih sehat.

1. Hindari Mengejar secara Berlebihan

Ketika seseorang tiba-tiba memilih diam, banyak orang merespons dengan rasa panik. Tidak sedikit yang kemudian terus mengirim pesan, menelepon, atau mendesak agar segera mendapat penjelasan.

Padahal, respons yang berlebihan justru dapat membuat kondisi emosional semakin tidak stabil. Cobalah memberi diri sendiri waktu untuk menenangkan pikiran agar keputusan dan tindakan yang diambil tidak didorong oleh rasa takut, marah, atau cemas.

2. Bedakan antara Membutuhkan Jeda dan Sedang Menghukum

Tidak semua sikap diam dapat dikategorikan sebagai silent treatment. Ada orang yang memilih menarik diri sementara karena merasa kewalahan dan membutuhkan waktu untuk mengelola emosinya.