Penurunan bulanan tersebut menjadi yang terbesar secara nominal sejak Maret 2020, ketika pandemi Covid-19 menyebabkan anjloknya permintaan energi global.

Namun, meningkatnya konflik di Timur Tengah kembali mengubah sentimen pasar. Situasi tersebut berkembang setelah Washington menjadi tuan rumah perundingan damai Israel-Lebanon pada Jumat lalu.

Harapan terhadap tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran juga mulai memudar seiring memburuknya kondisi keamanan di kawasan.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan segera mengambil keputusan terkait proposal kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata yang diumumkan pada awal April.

Seorang pejabat AS juga menyebut Washington telah mengajukan proposal deeskalasi secara bertahap guna meredakan ketegangan.

Dalam proses diplomatik tersebut, Israel dipandang sebagai salah satu pihak penting. Di sisi lain, Iran berulang kali menegaskan bahwa Hizbullah dan Lebanon harus dilibatkan dalam setiap perundingan yang dilakukan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Senin menyatakan tersendatnya proses diplomasi untuk mengakhiri konflik dipengaruhi oleh rendahnya tingkat kepercayaan, sikap Washington yang dinilai kontradiktif, serta invasi Israel ke Lebanon.

Permintaan Global Masih Jadi Faktor Penekan

Di tengah kenaikan harga akibat faktor geopolitik, pasar juga mencermati perkembangan permintaan minyak global.

Survei Reuters menunjukkan Arab Saudi kemungkinan akan kembali memangkas harga jual resmi atau official selling price (OSP) minyak mentah untuk pasar Asia pada Juli. Jika terealisasi, langkah tersebut akan menjadi penurunan untuk bulan kedua secara berturut-turut.