JAKARTA – Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin (1/6) setelah Iran memutuskan menghentikan perundingan dengan Amerika Serikat (AS). Keputusan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent tercatat naik US$3,43 atau 3,8 persen menjadi US$94,55 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$3,87 atau 4,4 persen ke level US$91,23 per barel.

Iran menunda proses perundingan dengan AS sebagai bentuk protes terhadap meluasnya invasi militer Israel di Lebanon. Teheran menegaskan bahwa terciptanya perdamaian di Lebanon menjadi salah satu syarat penting dalam upaya mewujudkan gencatan senjata.

Selain itu, kenaikan harga minyak juga dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan dan aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran.

Analis IG Tony Sycamore mengatakan pasar semakin mengkhawatirkan potensi gangguan di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling vital bagi distribusi minyak dan gas dunia.

“Bahkan jika kesepakatan tercapai, hal itu tidak akan langsung menciptakan lonjakan pasokan minyak,” kata Sycamore dalam catatannya, dikutip Reuters.

Ketegangan Timur Tengah Kembali Jadi Sorotan Pasar

Kenaikan harga minyak terjadi setelah sepanjang Mei lalu harga minyak justru mengalami penurunan tajam. Brent tercatat turun sekitar 19 persen, sementara WTI melemah sekitar 17 persen.