Dari sisi produksi, output minyak dan cairan energi AS hampir meningkat tiga kali lipat sejak tahun 2000 hingga mencapai sekitar 22 juta bph. Sebaliknya, produksi Arab Saudi cenderung berada pada kisaran 10 juta hingga 12 juta bph mengikuti kebijakan kuota OPEC, sementara produksi Rusia stagnan di bawah 10 juta bph dalam beberapa tahun terakhir.

Peneliti Baker Institute for Public Policy, Kenneth Medlock III, menilai dominasi minyak AS memiliki karakteristik berbeda dibandingkan Arab Saudi maupun Rusia. Menurutnya, pertumbuhan ekspor AS lebih banyak didorong oleh keputusan bisnis perusahaan swasta dibandingkan kebijakan langsung pemerintah.

“Ini mirip dengan peran yang selama ini dimainkan OPEC dan Arab Saudi melalui kapasitas produksi cadangan, tetapi lebih merupakan mekanisme pasar daripada instrumen strategis,” ujar Medlock.