“Washington memiliki alat baru yang sebelumnya tidak mereka sadari sebelum perang Iran, yaitu ekspor energi,” kata Kepala Kebijakan Kpler, Michelle Brouhard, Kamis (11/6), dikutip dari Reuters.
Perubahan tersebut terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Pada 2025, Arab Saudi masih mencatat ekspor sekitar 8,1 juta bph, lebih tinggi dibandingkan AS yang berada di level 6,6 juta bph. Namun gangguan pasokan dari Timur Tengah dan Rusia membuat ekspor minyak AS melonjak signifikan sepanjang tahun ini.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di pasar energi global. Dominasi baru AS diperkirakan dapat mengurangi pengaruh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) beserta sekutunya dalam menentukan arah pasokan dan harga minyak dunia.
Selain memiliki kekuatan ekonomi, militer, dan dominasi dolar AS dalam sistem keuangan internasional, posisi sebagai eksportir minyak terbesar dunia kini memberikan instrumen tambahan bagi Washington dalam membangun hubungan diplomatik dengan negara-negara mitra maupun rivalnya.
“Anda bisa melihat sekarang pengaruh yang dimiliki Amerika Serikat terhadap sejumlah negara karena mereka bergantung pada pasokan minyak dan gas dari AS,” ujar Brouhard.
Data Reuters menunjukkan Eropa menjadi pasar utama ekspor minyak AS sepanjang 2026 dengan porsi sekitar 47 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan 37 persen pada 2021.
Sementara itu, negara-negara Asia yang selama ini mengandalkan pasokan minyak dari Timur Tengah juga mulai meningkatkan impor dari AS. Pada Mei 2026, kawasan Asia menyerap sekitar 46 persen ekspor minyak AS, naik dari sekitar 37 persen pada tahun sebelumnya.

