Jambi – Wakil Ketua II DPRD Provinsi Jambi dari Fraksi PDI Perjuangan, Samsul Ridwan, menegaskan pentingnya keberpihakan gerakan mahasiswa kepada kaum marhaen dalam menghadapi dinamika sosial saat ini.
Pernyataan tersebut disampaikannya dalam Simposium Kebangsaan yang digelar DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jambi dalam rangka Dies Natalis ke-72, di Auditorium Rumah Dinas Gubernur Provinsi Jambi, Sabtu (02/05/2026). Kegiatan ini mengangkat tema “The Rediscovery of Our Revolution.”
Dalam sambutannya, Samsul Ridwan mengaku melakukan refleksi sebelum menghadiri forum tersebut untuk menyelaraskan pemikiran dengan kader GMNI yang dikenal sebagai organisasi ideologis yang berpegang pada ajaran Soekarno.
“Saya sempat berkontemplasi, karena kita sama-sama mencintai ajaran Bung Karno, ajaran marhaenisme yang berpihak kepada kaum tani, buruh, nelayan, dan kelompok yang masih harus kita perjuangkan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas undangan yang diberikan serta mengaku terhormat dapat hadir di tengah kader GMNI dalam forum tersebut.
Lebih lanjut, Samsul Ridwan mengajak peserta menjadikan momentum simposium sebagai ruang refleksi terhadap perjalanan bangsa, khususnya terkait revolusi yang dinilai belum selesai.
“Perlukah kita bertanya apakah revolusi sudah selesai? Saya kira perjuangan belum selesai. Namun, cara berjuang harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa kehadirannya bukan sekadar bernostalgia terhadap sejarah, melainkan untuk membuka ruang diskusi yang produktif dan kolaboratif.
“Saya ingin menjadi bagian dari diskusi, bukan hanya bernarasi, tetapi bagaimana hasil diskusi ini bisa melahirkan kolaborasi dan sinergi untuk membangun harmonisasi,” lanjutnya.
Samsul juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara mahasiswa, DPR, dan pemerintah dalam mewujudkan cita-cita Trisakti Bung Karno, yaitu berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi saat ini semakin kompleks. Ia menilai praktik politik cenderung bergeser menjadi transaksional, sementara ekonomi nasional masih dipengaruhi kapitalisme, serta kebudayaan menghadapi tekanan globalisasi.
“Saat ini politik kita tidak lagi berbicara soal ide dan gagasan, tetapi sudah mengarah ke politik transaksional. Belum lagi intervensi asing, serta ekonomi yang masih dipengaruhi kapitalisme, dan kebudayaan yang tergerus oleh globalisasi,” ungkapnya.
Ia menegaskan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama agar cita-cita para pendiri bangsa tetap terwujud.
Terkait marhaenisme, Samsul Ridwan menegaskan bahwa konsep tersebut harus dimaknai secara kontekstual sesuai perkembangan zaman.
“Kaum marhaen hari ini tidak hanya petani yang memegang cangkul, tetapi juga nelayan, pengemudi ojek online, dan seluruh kelompok masyarakat yang termarjinalkan. Kita harus tegas berpihak kepada mereka dengan perjuangan yang dinamis,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua DPC GMNI Jambi, Ludwig Syarif Sitohang, menyampaikan bahwa tema “Rediscovery of Our Revolution” bukan sekadar slogan, melainkan ajakan untuk kembali pada nilai-nilai dasar perjuangan organisasi.
“Gerakan harus kembali menapakkan pijakan pada ajaran Bung Karno, yakni marhaenisme, untuk mewujudkan sosialisme Indonesia. Kita tidak boleh jauh dari itu,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa GMNI harus tetap konsisten sebagai organisasi perjuangan yang berpihak kepada rakyat serta aktif menjawab berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Asisten II Setda Provinsi Jambi Syamsurizal, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Jambi Prof. Fauzi Syam, perwakilan Polda Jambi dari Ditbinmas, serta sejumlah organisasi mahasiswa seperti PMKRI, GMKI, IMM, PMII, dan organisasi mahasiswa lainnya.

