JAKARTA – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menargetkan penyusunan peta jalan (roadmap) bioekonomi rampung pada Desember 2028. Pengembangan bioekonomi diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah sumber daya hayati Indonesia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi hijau (green economy).
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Air, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo Adypurnama mengatakan pengembangan bioekonomi akan dilakukan melalui biosolusi, yakni pemanfaatan sumber daya hayati dengan dukungan teknologi.
Menurut Leonardo, pendekatan tersebut dapat membantu Indonesia mengoptimalkan kekayaan hayati yang dimiliki tanpa terus mengandalkan perluasan lahan untuk meningkatkan produksi.
“Inti dari bioekonomi adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan modalitas biologi kita yang sangat kaya dengan pendekatan teknologi baru,” ujar Leonardo dalam media briefing setelah peluncuran laporan The Value of Biosolutions in Indonesia di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Ia menyebut sektor pangan dan pakan sebagai bidang yang memiliki potensi untuk dikembangkan melalui biosolusi. Pemanfaatan teknologi diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus nilai tambah dari setiap lahan yang digunakan.
Selain itu, biosolusi berpotensi mendukung transisi energi melalui pengembangan bahan bakar nabati atau biofuel. Pemanfaatan beragam komoditas sebagai bahan baku juga diharapkan membuka alternatif produksi energi, sehingga ketergantungan terhadap satu jenis komoditas dapat dikurangi.
Bappenas Tetapkan Lima Kelompok Produk Prioritas
Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Kementerian PPN/Bappenas Dadang Jainal Mutaqin mengatakan penyusunan roadmap bioekonomi akan mencakup pemetaan produk prioritas serta kebijakan untuk mendorong pengembangannya.

