Dadang menyebut terdapat lima kelompok produk prioritas dalam pengembangan bioekonomi, yakni pangan, energi, kesehatan, kosmetik, dan biomaterial. Jasa lingkungan, termasuk ekowisata, juga menjadi bagian dari cakupan pengembangan tersebut.
Pada sektor pangan, pemerintah melihat peluang pemanfaatan pupuk hayati dan biopestisida untuk meningkatkan produktivitas. Sementara itu, pada sektor energi, pengembangan biomassa dan bahan bakar nabati menjadi salah satu bidang yang berpotensi dikembangkan.
Penentuan prioritas dinilai penting agar pengembangan bioekonomi tidak berhenti pada identifikasi potensi sumber daya. Pemerintah juga perlu mendorong penerapan teknologi, pengembangan produk, serta pembentukan pasar bagi hasil inovasi berbasis sumber daya hayati.
Danantara Didorong Dukung Pembiayaan Biosolusi
Salah satu tantangan pengembangan biosolusi di Indonesia adalah menerjemahkan hasil penelitian menjadi produk yang siap dipasarkan. Karena itu, Bappenas menilai dukungan pembiayaan dan keterlibatan sektor industri diperlukan untuk menjembatani riset dengan kebutuhan pasar.
Dadang mengatakan lembaga pembiayaan dan mitra industri perlu terlibat dalam pengembangan hasil penelitian agar dapat mencapai tahap komersialisasi. Salah satu pihak yang diharapkan berperan adalah Danantara.
“Kita juga perlu mendorong Danantara untuk bisa masuk ke sini,” ujar Dadang.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan sektor swasta diperlukan agar potensi sumber daya hayati Indonesia dapat menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

