Jakarta — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) memunculkan kekhawatiran baru terhadap penyelenggaraan pemilu di Asia Tenggara. Teknologi tersebut berpotensi digunakan untuk memproduksi berita palsu, disinformasi, serta konten politik secara cepat dan masif di internet dan media sosial.

Kekhawatiran itu menguat setelah perusahaan AI Anthropic mengungkap penggunaan Claude dalam sebuah operasi manipulasi pemilu komersial yang menargetkan Malaysia. Laporan Threat Intelligence Anthropic pada September 2026 menyebut operasi tersebut menggunakan sekitar 1.000 akun X palsu, situs berita palsu bernama Malaysia Pulse, serta sejumlah dokumen yang dibuat untuk menyebarkan informasi palsu.

Operasi tersebut memanfaatkan data sensus dan data pemilih untuk membuat profil serta menargetkan pemilih di seluruh 222 daerah pemilihan parlemen Malaysia. Isu yang menjadi sasaran mencakup persoalan sensitif terkait ras, agama, dan kerajaan.

AI digunakan untuk memproduksi berita palsu

Dalam laporan tersebut, Anthropic menemukan bahwa Claude digunakan untuk membangun berbagai bagian dari operasi manipulasi informasi. Pelaku memanfaatkannya untuk mengelola jaringan akun media sosial palsu, membuat sistem penargetan pemilih, menulis ulang berita, serta menghasilkan dokumen palsu.

Situs Malaysia Pulse digunakan sebagai media berita sintetis. Pelaku mengambil berita dari media Malaysia yang sah, kemudian meminta model AI menulis ulang artikel tersebut beberapa kali sebelum menerbitkannya dengan nama penulis palsu.