Hilirisasi dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu agenda utama pembangunan ekonomi nasional. Gagasan tersebut lahir dari kesadaran bahwa daerah-daerah penghasil sumber daya alam tidak dapat terus bergantung pada penjualan komoditas mentah yang memiliki nilai tambah rendah. Melalui hilirisasi, komoditas diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi sehingga mampu menciptakan lapangan kerja, memperluas basis usaha, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat ketahanan ekonomi daerah.
Bagi Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, agenda tersebut memiliki relevansi yang sangat besar. Kedua daerah merupakan bagian penting kawasan pesisir timur Jambi yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah, mulai dari kelapa sawit, kelapa rakyat, pinang, perikanan tangkap dan budidaya, hingga sektor migas dan perdagangan pesisir. Struktur ekonomi kawasan ini sejak lama ditopang oleh sektor-sektor berbasis sumber daya alam yang menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi masyarakat (BPS Tanjung Jabung Barat).
Namun, pengalaman banyak daerah menunjukkan bahwa keberhasilan hilirisasi tidak ditentukan semata oleh ketersediaan bahan baku, investasi, atau pembangunan kawasan industri. Tidak sedikit wilayah yang kaya sumber daya alam tetap mengalami kesulitan keluar dari ketergantungan ekonomi primer karena nilai tambah yang tercipta justru lebih banyak dinikmati di luar daerah. Dalam banyak kasus, persoalannya bukan terletak pada kekurangan komoditas, melainkan pada keterbatasan kapasitas manusia yang mampu mengelola, mengembangkan, dan menguasai rantai nilai ekonomi yang lebih kompleks.

