JAKARTA – Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menegaskan bahwa Lebanon masih membutuhkan kehadiran pasukan internasional di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menjaga stabilitas keamanan setelah berakhirnya mandat Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL).
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap rencana berakhirnya mandat UNIFIL pada akhir tahun 2026. Sebelumnya, pada Agustus tahun lalu, Dewan Keamanan PBB memutuskan untuk mengakhiri mandat pasukan penjaga perdamaian tersebut dan meminta Sekjen PBB menyusun sejumlah opsi terkait keberlanjutan misi PBB di Lebanon paling lambat 1 Juni 2026.
Dalam laporan yang disampaikan kepada Dewan Keamanan PBB, Antonio Guterres mengajukan tiga opsi yang mencakup pengerahan antara 2.000 hingga 5.500 personel PBB untuk memantau pelaksanaan gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon.
“Dari semua opsi yang diajukan, kehadiran personel PBB berseragam yang bekerja untuk memfasilitasi de-eskalasi, dialog, penghubungan dan koordinasi, serta dukungan untuk Angkatan Bersenjata Lebanon, akan diperlukan menuju tujuan utama solusi jangka panjang untuk konflik tersebut,” demikian isi laporan yang dikutip AFP, Selasa (2/6/2026).
Lebanon Dukung Kehadiran Pasukan PBB
Sejumlah sumber di Lebanon menyebut pemerintah negara tersebut mendukung keberlanjutan kehadiran pasukan PBB setelah mandat UNIFIL berakhir.
Duta Besar Lebanon untuk PBB, Ahmad Arofa, mengatakan perkembangan situasi keamanan saat ini justru menunjukkan pentingnya dukungan berkelanjutan dari PBB dan komunitas internasional.

