Menurutnya, bantuan tersebut diperlukan untuk mendukung proses penarikan pasukan Israel sekaligus memperkuat kemampuan negara dalam menjalankan otoritasnya di seluruh wilayah Lebanon.
“Khususnya untuk memfasilitasi penarikan Israel di satu sisi, dan untuk memungkinkan negara tersebut memperluas otoritasnya atas seluruh wilayahnya di sisi lain,” ujarnya.
Dukungan dari Sejumlah Anggota Dewan Keamanan
Wacana penggantian UNIFIL juga mendapat dukungan dari beberapa anggota Dewan Keamanan PBB, termasuk China dan Rusia.
Duta Besar China untuk PBB, Fu Cong, menilai Dewan Keamanan perlu mengambil langkah yang bertanggung jawab untuk memastikan keberlanjutan kehadiran PBB di Lebanon dan mencegah terjadinya kekosongan keamanan.
“Karena mandat UNIFIL akan segera berakhir, Dewan Keamanan harus mengambil keputusan yang bertanggung jawab untuk memastikan kehadiran PBB yang berkelanjutan di Lebanon dan untuk mencegah kekosongan keamanan,” katanya.
Kekhawatiran Meningkat di Tengah Konflik
Kekhawatiran terkait berakhirnya mandat UNIFIL muncul ketika konflik di kawasan masih berlangsung. Serangan Israel ke wilayah Lebanon serta berbagai upaya diplomasi untuk mencapai perdamaian menjadi faktor yang memperkuat urgensi kehadiran pasukan penjaga perdamaian internasional.
Saat ini, UNIFIL memiliki sekitar 7.500 personel penjaga perdamaian yang berasal dari hampir 50 negara. Mereka bertugas di wilayah selatan Lebanon, khususnya di sekitar Blue Line, kawasan perbatasan yang menjadi titik sensitif antara Lebanon dan Israel.

