Jakarta — Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB) menyampaikan informasi astronomis terkait posisi hilal Lebaran yang akan diamati pada Kamis (19/3). Peneliti Yatny Yulianty menyebut kondisi hilal berada pada batas yang cukup menantang untuk diamati.
“Keberhasilan pengamatan akan sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer, transparansi langit, serta pengalaman dan metode pengamatan yang digunakan,” ujar Yatny Yuliyanty, peneliti Observatorium Bosscha ITB, pada Senin (16/3), melansir laman ITB.
Berdasarkan perhitungan Observatorium Bosscha, data astronomis pada Kamis yang bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H menunjukkan posisi bulan sangat dekat dengan matahari di langit barat saat matahari terbenam.
Parameter geometri bulan mencatat elongasi geosentrik di wilayah Indonesia berada pada kisaran sekitar 4,6 derajat hingga 6,2 derajat, dari wilayah timur hingga barat. Elongasi geosentrik merupakan jarak sudut bulan terhadap matahari jika dilihat dari pusat bumi.
Sementara itu, elongasi toposentrik berada pada kisaran sekitar 4,0 derajat hingga 5,5 derajat. Elongasi ini menggambarkan jarak sudut bulan terhadap matahari dari sudut pandang pengamat di permukaan bumi.
Ketinggian bulan saat matahari terbenam juga tergolong rendah. Peta ketinggian menunjukkan posisi hilal di Indonesia berkisar antara 0 derajat hingga 3 derajat di atas ufuk, khususnya di wilayah Indonesia bagian barat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bulan berada sangat dekat dengan matahari di langit barat dan memiliki ketinggian yang rendah di atas ufuk, sehingga menyulitkan proses pengamatan.
Untuk mendokumentasikan visibilitas hilal, para astronom akan melakukan pengamatan menggunakan teleskop dan instrumen pencitraan di dua lokasi, yakni Observatorium Bosscha dan Observatorium Lhok Nga yang didukung Kementerian Agama Republik Indonesia.
Yatny menjelaskan, Observatorium Lhok Nga dipilih karena parameter posisi bulan di wilayah Aceh berada di sekitar batas kriteria visibilitas hilal yang saat ini digunakan. Pengamatan di lokasi tersebut dinilai penting untuk memverifikasi kondisi batas tersebut.
Menurutnya, penetapan awal bulan Syawal tetap menjadi kewenangan Pemerintah RI melalui Kementerian Agama Republik Indonesia dalam sidang isbat pada 19 Maret 2026.
Observatorium Bosscha berperan menyampaikan hasil perhitungan, pengamatan, dan penelitian hilal sebagai masukan ilmiah yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam proses penetapan tersebut.


