Jakarta — Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) lebih menguntungkan pihak Negeri Paman Sam. Kebijakan tersebut dinilai berisiko menekan industri domestik, mulai dari sektor pangan hingga tekstil dan alas kaki.
Peneliti Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi INDEF, Ahmad Heri Firdaus, mengungkapkan struktur tarif dalam kesepakatan itu tidak berjalan secara simetris. Indonesia disebut menghapus sekitar 99 persen tarif untuk produk asal AS. Sebaliknya, sejumlah produk ekspor Indonesia masih dikenakan tarif hingga 19 persen saat memasuki pasar Amerika Serikat.
“Di sini kita bisa melihat bahwa struktur tarifnya asimetris tapi resiprokal, jadi ada ketidakseimbangan di mana Indonesia ini menghapus 99 persen tarif produk dari Amerika Serikat. Jadi ini hampir full liberalisasi. Hampir full liberalisasi, artinya bebas masuk sini,” kata Heri dalam diskusi publik INDEF, Jumat (27/2).
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi melemahkan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar AS, terutama di tengah ongkos produksi domestik yang relatif lebih tinggi dibandingkan negara pesaing seperti Vietnam dan Malaysia.



