Pembangunan waduk membuat masyarakat harus meninggalkan tempat tinggalnya. Penggenangan Waduk Jatigede mulai dilakukan pada 31 Agustus 2015.
Sejak saat itu, sejumlah permukiman, jalan, dan lahan yang sebelumnya digunakan masyarakat berada di bawah permukaan air waduk.
Pada 5 September 2026, sisa-sisa kawasan permukiman lama kembali terlihat setelah permukaan air menyusut. Penurunan air membuat garis tepian waduk mundur sekitar 300 meter.
Kondisi tersebut memperlihatkan kembali jalan beraspal, lahan, serta reruntuhan bangunan yang sebelumnya terendam. Kemunculan kawasan lama ini menjadi pengingat akan wilayah yang pernah menjadi tempat tinggal masyarakat sebelum pembangunan waduk.
3. Makam Lama di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri
Waduk Gajah Mungkur berada di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Sebelum dibangun, kawasan tersebut merupakan permukiman yang mencakup 51 desa di tujuh kecamatan.
Pembangunan waduk pada 1976–1980 membuat penduduk harus meninggalkan tempat tinggalnya. Sebagian masyarakat mengikuti program transmigrasi atau bedol desa.
Pada 9 September 2026, puluhan makam lama di Kelurahan Wuryantoro, Kecamatan Wuryantoro, kembali terlihat setelah permukaan air waduk menyusut.
Makam-makam tersebut sebenarnya kerap muncul ketika musim kemarau dan kembali terendam saat musim hujan. Namun, pada 2026, kemunculannya baru terlihat pada September, lebih lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kemunculan makam tersebut memperlihatkan kembali jejak permukiman lama yang telah berada di bawah genangan Waduk Gajah Mungkur selama puluhan tahun.
Kekeringan Membuka Kembali Jejak Permukiman Lama
Munculnya kembali kampung, bangunan, jalan, dan makam di sejumlah waduk menunjukkan bagaimana perubahan permukaan air dapat memperlihatkan kawasan yang sebelumnya tersembunyi.

