Ateng menjelaskan bahwa perbedaan kenaikan kedua indeks tersebut menjadi faktor utama tingginya peningkatan NTP subsektor hortikultura.

“Hal ini terutama disebabkan indeks harga yang diterima petani hortikultura naik cukup tinggi, yaitu naik 7,12 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani hortikultura hanya mengalami kenaikan sebesar 0,23 persen,” kata Ateng.

Sejumlah komoditas yang dominan mendorong kenaikan indeks harga yang diterima petani hortikultura adalah cabai merah, tomat, dan cabai rawit.

NTP Peternakan dan Perikanan Mengalami Penurunan

Berbeda dengan tanaman pangan, hortikultura, dan tanaman perkebunan rakyat, NTP subsektor peternakan dan perikanan justru mengalami penurunan pada Oktober 2026.

BPS mencatat NTP subsektor peternakan turun sebesar 0,88 persen. Sementara itu, subsektor perikanan mengalami penurunan sebesar 0,51 persen.

Khusus subsektor perikanan, penurunan tersebut terutama berasal dari melemahnya Nilai Tukar Nelayan (NTN) sebesar 0,99 persen. Kondisi ini berbeda dengan Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPI) yang masih mencatatkan kenaikan sebesar 0,26 persen.

Menurut Ateng, penurunan NTN dipengaruhi oleh turunnya indeks harga yang diterima nelayan, sementara indeks harga yang harus dibayar mengalami peningkatan.

“Penurunan nilai tukar nelayan terutama karena indeks harga yang diterima nelayan turun sebesar 0,51 persen. Sedangkan indeks harga yang dibayar nelayan meningkat sebesar 0,49 persen,” ujar Ateng.

Adapun komoditas yang dominan menyebabkan penurunan indeks harga yang diterima nelayan antara lain ikan tongkol, layang, dan cakalang.