JAKARTA — Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman yang didukung Arab Saudi, Rashad Al Alimi, mengumumkan dimulainya operasi militer untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai kelompok Houthi.

Dalam pernyataan pada Minggu (4/10), Al Alimi mengatakan pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional akan memperluas “otoritas negara dan lembaga-lembaga ke seluruh wilayah nasional”.

“Kami telah menginstruksikan angkatan bersenjata, pasukan keamanan, dan semua formasi militer untuk mulai melaksanakan tugas yang telah ditetapkan sesuai dengan rencana yang telah disetujui hingga negara ini dibebaskan dari Houthi,” ujar Al Alimi, seperti dikutip Al Jazeera.

Al Alimi menambahkan seluruh lembaga negara akan disiagakan sepenuhnya “sampai misi selesai dan kemenangan tercapai”.

Pemerintah Yaman Klaim 700 Houthi Tewas

Pengumuman tersebut disampaikan setelah pasukan pemerintah Yaman melaporkan telah melakukan 257 operasi penargetan terhadap posisi, pergerakan, dan kemampuan militer Houthi pada Sabtu.

Juru bicara pasukan pemerintah Yaman, Kolonel Majed Abdullah Al Nazili, mengatakan perkiraan awal menunjukkan sedikitnya 700 anggota Houthi tewas dalam operasi tersebut. Angka tersebut merupakan klaim dari pihak pemerintah Yaman dan belum dapat diverifikasi secara independen.

Pada Minggu, koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman juga mengatakan telah melakukan 97 operasi terhadap bala bantuan Houthi di front Tor Al Baha dan poros Taiz.

Operasi tersebut menggunakan pesawat tempur, drone, artileri, rudal, dan penembak jitu, menurut keterangan koalisi.

Sementara itu, juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan kelompoknya telah melancarkan serangan menggunakan rudal balistik dan drone terhadap fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan Khurais.

Klaim mengenai serangan tersebut belum dikonfirmasi oleh otoritas Arab Saudi. Al Jazeera melaporkan pemerintah Saudi sebelumnya membantah klaim Houthi mengenai serangan di Riyadh sebagai upaya mengalihkan perhatian dari kerugian yang dialami kelompok tersebut.

Konflik Yaman Memasuki Babak Baru

Analis pertahanan yang berbasis di London, Ibrahim Jalal, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa operasi pemerintah Yaman dalam skala penuh membawa konflik ke “fase baru”.

“Proses perdamaian dan de-eskalasi telah gagal karena ada ketidakseimbangan kekuatan yang jelas yang telah berlangsung setidaknya selama enam tahun terakhir. Untuk memecah kebuntuan, harus ada pertempuran yang menentukan,” kata Jalal.

Pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman meningkat setelah gencatan senjata yang berlaku sejak 2022 runtuh pada Juli 2026. Eskalasi terbaru juga telah menyebabkan perpindahan penduduk dalam jumlah besar.

Pada pertengahan September, Houthi merebut kota pelabuhan Mocha dan sejumlah pulau strategis di Selat Bab Al Mandeb sebelum pasukan anti-Houthi menstabilkan garis depan. Bab Al Mandeb merupakan jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu jalur penting bagi perdagangan serta pengiriman energi global.

Yaman telah dilanda perang sejak Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014. Konflik tersebut kemudian melibatkan berbagai kelompok bersenjata serta dukungan dari sejumlah kekuatan regional.

Operasi terbaru pemerintah Yaman berpotensi semakin meningkatkan intensitas konflik di tengah situasi keamanan yang sebelumnya sudah memburuk di wilayah tersebut.