Temuan tersebut berasal dari dua kajian, yakni Source Apportionment PM2.5 di Jakarta dan Inventarisasi Emisi Wilayah Jakarta Raya (Jabodetabek), yang dipaparkan dalam forum Clean Air for Greater Jakarta pada Rabu (7/10).

Particulate matter (PM) atau partikulat merupakan campuran partikel padat dan droplet cair yang tersuspensi di udara. PM2.5 menjadi salah satu jenis partikulat yang menjadi perhatian dalam persoalan kualitas udara Jakarta.

Studi ITB menunjukkan aktivitas manusia menjadi sumber penting paparan PM2.5. Sektor transportasi menjadi sumber terbesar dengan kontribusi sekitar 59 persen.

Dari berbagai sumber tersebut, kendaraan diesel menyumbang 33,1 persen, kendaraan bensin 26,2 persen, dan secondary sulfate 20,4 persen. Sementara itu, pembakaran batu bara menyumbang sekitar 5,5 persen dan pembakaran sampah sekitar 5 persen.

Studi tersebut juga menemukan aktivitas kota-kota penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi turut berkontribusi terhadap sumber polusi udara Jakarta dengan angka 38,51 persen.

Penanganan Polusi Membutuhkan Koordinasi Antarwilayah

Deftrianov menyebut ada tiga hal yang dibutuhkan untuk menangani polusi udara secara terpadu. Pertama, tata kelola metropolitan yang lebih kuat.

Menurutnya, rencana kawasan aglomerasi Jakarta didasarkan pada Peraturan Nasional Nomor 2 Tahun 2024. Ia berharap Dewan Aglomerasi Jakarta dapat menyediakan mekanisme kelembagaan untuk mengoordinasikan sekaligus mendorong pelaksanaan tindakan lintas wilayah administratif.