Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Critical Reviews in Food Science and Nutrition pada 2024 membahas peran asupan karbohidrat dalam mendukung performa olahraga ketahanan. Dalam konteks ini, pisang dapat menjadi salah satu pilihan sumber karbohidrat dari makanan utuh untuk mendukung strategi fueling, yakni upaya memenuhi kebutuhan energi sebelum, selama, dan setelah berolahraga.
Meski demikian, kebutuhan karbohidrat setiap pelari tidak selalu sama. Durasi dan intensitas lari serta kemampuan tubuh mencerna makanan perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan asupan selama perlombaan.
2. Mengandung Kalium yang Mendukung Fungsi Otot
Selain karbohidrat, pisang dikenal sebagai sumber kalium. Berdasarkan TKPI 2017, kandungan kalium pisang sekitar 300 miligram per 100 gram, meskipun jumlahnya dapat berbeda menurut jenis pisang.
Kalium merupakan mineral yang berperan dalam menjaga keseimbangan cairan, penghantaran impuls saraf, dan kontraksi otot. Fungsi-fungsi tersebut penting bagi tubuh ketika melakukan aktivitas fisik, termasuk berlari dalam durasi panjang.
Pisang juga mengandung mineral lain, seperti fosfor, kalsium, magnesium, dan zat besi. Masing-masing memiliki fungsi berbeda, mulai dari mendukung kesehatan tulang hingga membantu berbagai proses metabolisme tubuh.
Namun, mengonsumsi pisang saja tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan elektrolit selama maraton. Kebutuhan cairan dan elektrolit, termasuk natrium yang hilang melalui keringat, perlu diperhitungkan sesuai kondisi tubuh, cuaca, durasi lari, dan banyaknya keringat yang keluar.

