Orbán dikenal sebagai pemimpin nasionalis yang mengusung konsep “demokrasi iliberal”. Selama pemerintahannya, ia kerap berselisih dengan Uni Eropa terkait berbagai isu, termasuk kebijakan imigrasi, independensi lembaga, serta pendekatan terhadap perang Rusia di Ukraina.

Kekalahan tersebut menjadi perubahan politik besar bagi Hungaria. Magyar menawarkan arah kebijakan yang lebih dekat dengan Uni Eropa dan menjanjikan perubahan dalam tata kelola pemerintahan.

Hasil pemilu juga menunjukkan bahwa dukungan terhadap Orbán di tingkat internasional tidak cukup untuk mempertahankan kekuasaannya ketika mayoritas pemilih memberikan suara kepada partai oposisi.

Trump dan JD Vance Dukung Orbán

Berbeda dengan situasi di Brasil, dukungan Trump terhadap Orbán disampaikan secara terbuka. Pada Februari 2026, Trump menyatakan dukungannya terhadap Orbán melalui platform Truth Social dan memuji hubungan kedua negara.

Trump juga menegaskan kembali dukungannya terhadap Orbán untuk mempertahankan jabatan perdana menteri.

Dukungan tersebut diperkuat dengan kunjungan Wakil Presiden AS JD Vance ke Hungaria menjelang pemilihan. Vance menghadiri kegiatan kampanye untuk mendukung Orbán, sementara Trump turut berbicara melalui telepon dalam sebuah rapat umum.

Trump bahkan menyatakan pemerintahannya siap menggunakan kekuatan ekonomi Amerika Serikat untuk membantu perekonomian Hungaria jika Orbán kembali menang.

Namun, hasil pemilihan justru membawa kemenangan bagi Magyar dan Partai Tisza. Orbán pun kehilangan kekuasaan setelah lebih dari satu dekade memimpin negara tersebut.

Hasil Pemilu Brasil dan Hungaria Jadi Sorotan Internasional

Kemenangan Lula dan Magyar berlangsung dalam konteks politik yang berbeda. Di Brasil, pemilihan presiden mempertemukan petahana dengan putra mantan presiden yang memiliki kedekatan politik dengan Trump. Sementara di Hungaria, pemilihan parlemen mempertemukan partai Orbán dengan oposisi yang dipimpin Magyar.