Moira MacDonald dari Seattle Times turut menyoroti identitas Digger sebagai film satire politik. Menurutnya, perpaduan komedi gelap, satire politik, dan drama bencana ekologis justru membuat film tersebut melelahkan.
“Waktunya tepat untuk menghadirkan satire tentang perubahan iklim, tetapi sebuah satire seharusnya membuat kita sedikit tidak nyaman, sedikit lebih berpikir, dan sedikit berubah. Digger justru hanya membuat kita kelelahan,” tulis Moira MacDonald.
Sementara itu, Manohla Dargis dari The New York Times menilai perpaduan genre dan sejumlah adegan dalam Digger belum mampu membangun kekuatan emosional yang cukup.
“Terlepas dari adegan bola mata yang mencuat, kepala yang berputar, rahang yang menganga, serta beberapa adegan yang coba diarahkan Iñárritu dengan gaya manis ala Wes Anderson, hasil akhirnya sebagian besar tetap terasa hambar dan tidak mengundang tawa,” tulis Manohla Dargis.
Kritikus Wall Street Journal, Kyle Smith, juga memberikan penilaian negatif terhadap film tersebut. Kritiknya bahkan masuk dalam daftar top criticism di Rotten Tomatoes.
“Berani, orisinal, dan penting bukan tiga kata yang langsung terlintas ketika membicarakan Digger,” tulis Kyle Smith.
Tom Cruise Jadi Sosok Egois dan Manipulatif
Digger menampilkan Tom Cruise sebagai pemeran utama dengan karakter yang berbeda dari sejumlah peran sebelumnya.
Cruise memerankan Digger Rockwell, sosok egois dan manipulatif yang berada di tengah krisis besar dan berusaha meyakinkan dunia bahwa dirinya merupakan penyelamat umat manusia.

