Selain itu, udara dingin juga dapat memengaruhi mukosa atau lapisan pelindung saluran pernapasan. Kondisi tersebut berkaitan dengan mekanisme pembersihan mukosiliar, yaitu sistem alami yang membantu mengeluarkan lendir dan partikel dari saluran pernapasan, serta pertahanan lokal di hidung.
Namun, flu tetap terjadi akibat infeksi virus. Suhu dingin atau rambut basah bukan penyebab langsung infeksi tersebut.
Air Hujan Bisa Membawa Polutan
Selain suhu dingin, kualitas air hujan juga perlu diperhatikan. Selama berada di atmosfer, air hujan dapat berinteraksi dengan debu, polutan udara, mikroorganisme, dan berbagai partikel lainnya.
Partikel tersebut dapat menempel pada rambut dan kulit kepala ketika seseorang kehujanan.
“Dalam kondisi tertentu, paparan polutan berpotensi memicu stres oksidatif dan peradangan, meskipun penelitian yang secara langsung menghubungkan air hujan dengan gangguan rambut dan kulit kepala masih terbatas,” ujar Widya.
Karena itu, setelah kehujanan, rambut sebaiknya dibilas menggunakan air bersih dan segera dikeringkan.
Jika terpapar hujan dalam waktu lama, terutama di lingkungan dengan tingkat polusi tinggi, mencuci rambut menggunakan sampo dapat membantu membersihkan kotoran dan partikel yang menempel.
Langkah tersebut terutama ditujukan untuk menjaga kebersihan rambut dan kulit kepala, bukan sebagai cara khusus untuk mencegah flu.
Apa Risiko Tidur dengan Rambut Basah?
Selain kebiasaan tidak membersihkan rambut setelah kehujanan, tidur dengan rambut yang masih basah juga perlu diperhatikan.

