Houthi dan Arab Saudi Kembali Berhadapan
Konflik antara Houthi dan Arab Saudi bukan persoalan baru. Perang saudara Yaman telah berlangsung selama lebih dari satu dekade dan melibatkan sejumlah kekuatan lokal maupun regional.
Houthi menguasai sebagian besar wilayah utara dan tengah Yaman, termasuk Sanaa. Kelompok tersebut berhadapan dengan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi serta sejumlah kelompok bersenjata lainnya.
Arab Saudi sebelumnya memimpin koalisi yang mendukung pemerintah Yaman dalam menghadapi Houthi. Setelah gencatan senjata 2022 mengurangi intensitas pertempuran, Riyadh berupaya menjaga situasi tetap terkendali.
Namun, eskalasi terbaru kembali mengubah kondisi di lapangan. Al Jazeera melaporkan bahwa konflik kini menjadi yang paling serius sejak gencatan senjata 2022 meredakan sebagian besar pertempuran.
Babak Baru Konflik Yaman Mengancam Jalur Laut
Perkembangan konflik juga mendapat perhatian karena posisi geografis Yaman yang berada di dekat Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb.
Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Eskalasi di wilayah tersebut berpotensi mengganggu lalu lintas kapal dan perdagangan internasional.
Kekhawatiran semakin besar setelah Houthi mengambil alih kota pelabuhan Mokha atau Mocha di pesisir Laut Merah pada 10 September. Associated Press melaporkan bahwa penguasaan kota tersebut menjadi salah satu keuntungan teritorial terbesar Houthi sejak gencatan senjata 2022.
Reuters juga melaporkan bahwa Houthi kini memiliki kemampuan persenjataan yang semakin beragam, termasuk rudal dan drone, sementara pasukan yang didukung Arab Saudi terus melakukan operasi di sejumlah front di Yaman.

