Orasi.ID
Foto: Kegiatan layanan kesehatan dan trauma healing di Kampung Sepang paroki Lando, Selasa 15 September 2026.

Jelang Musim Hujan, Terpal Jadi Kebutuhan Mendesak

Memasuki masa transisi pemulihan selama satu bulan, Caritas tidak langsung menghentikan respons darurat. Bantuan tetap berjalan, tetapi prioritas mulai bergeser mengikuti kebutuhan warga di lapangan.

Mendekati musim hujan, bantuan hunian darurat menjadi salah satu kebutuhan utama.

Caritas mendorong paroki-paroki mengurangi distribusi sembako secara bertahap dan memperkuat bantuan berupa tenda, terpal, selimut dan tikar. Layanan kesehatan serta pendampingan psikososial juga tetap dilanjutkan.

Persoalan yang kini dihadapi adalah keterbatasan stok terpal.

Stok terpal di Posko Keuskupan Labuan Bajo telah habis. Caritas masih menunggu sekitar 1.500 lembar terpal yang dikirim melalui sejumlah jejaring bantuan, antara lain Amsari, Posko Surabaya dan Karinakas Semarang.

Terpal tersebut diprioritaskan bagi warga yang membutuhkan hunian sementara, termasuk untuk mendukung aktivitas belajar di kelas-kelas darurat.
Caritas juga meminta paroki melakukan pendataan kebutuhan terpal bagi sekolah-sekolah yang kegiatan belajar-mengajarnya masih berlangsung di luar ruangan, baik sekolah yayasan Katolik maupun sekolah negeri.

21.150 Jiwa Sudah Dilayani

Memasuki fase pemulihan, Caritas juga mengubah pola pendataan. Bantuan tidak lagi hanya dihitung berdasarkan jumlah penerima secara kumulatif, tetapi mulai diarahkan menggunakan data berbasis nama dan alamat (by name by address).

Pendamping Karina KWI atau Caritas Indonesia, Toufin, menegaskan pola tersebut diperlukan agar bantuan benar-benar diterima warga yang terdampak dan membutuhkan.

Lima aspek menjadi perhatian dalam pendataan, yakni identitas warga terdampak, kelompok rentan dalam keluarga, jenis dan tingkat kerusakan atau kehilangan aset, kebutuhan paling mendesak, serta kemampuan keluarga untuk melakukan pemulihan secara mandiri.

Selain itu, kelompok rentan yang menjadi perhatian meliputi bayi dan balita, anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, ibu menyusui, warga yang membutuhkan pengobatan rutin, kepala keluarga perempuan serta keluarga yang kehilangan sumber penghasilan.

Pendataan juga diarahkan hanya kepada rumah yang benar-benar mengalami kerusakan akibat gempa.

Dalam penghitungan berbasis hunian, satu rumah dihitung sebagai satu unit hunian terdampak. Jika dalam satu rumah terdapat lebih dari satu KK, seluruh anggota keluarga tetap dihitung dalam satu unit rumah.

Caritas akan menyelaraskan pendataan tersebut dengan data dan kriteria pemerintah yang melibatkan tim teknis bersertifikasi. Jika terjadi perbedaan penilaian kerusakan, warga didorong menggunakan mekanisme sanggahan resmi kepada pemerintah daerah.