Ketua Pusat Studi Kebijakan Publik dan Politik Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Rindu Erwin Marpaung, mengatakan tim peneliti mengambil sampel air laut dari sejumlah titik di pesisir Manduamas.
Adapun titik pengambilan sampel meliputi Pantai Sago, Pantai Tapus, Pantai Biru, Pantai Sindeas dan Pantai Afdeling.
“Pengambilan sampel pada beberapa titik ini penting agar kita tidak hanya melihat kondisi air laut dari satu lokasi. Setiap titik dapat memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga data yang diperoleh nantinya dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai potensi bahan baku garam di wilayah Manduamas,” kata Rindu.
Ia menjelaskan, penelitian tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan data laboratorium, tetapi juga menjawab peluang pengembangan garam rakyat secara berkelanjutan.
“Yang ingin kita bangun bukan sekadar angka hasil laboratorium. Data tersebut harus dapat menjawab pertanyaan yang lebih besar: apakah sumber daya air laut di Manduamas memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku garam rakyat, bagaimana kualitasnya, dan seperti apa peluang pengembangannya secara berkelanjutan,” terangnya.
Menurut Rindu, pengembangan garam rakyat apabila nantinya terbukti memiliki potensi secara ilmiah tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis produksi. Potensi tersebut juga menyangkut pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi lokal, ketahanan pangan, tata kelola sumber daya pesisir hingga kebijakan pemerintah daerah.
Karena itu, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar dalam menentukan arah pengembangan potensi garam rakyat sekaligus mendukung perumusan kebijakan yang berbasis data dan bukti ilmiah.

