Padahal, membangun organisasi bukan berarti memiliki organisasi.

Kepemimpinan bukan hak untuk menguasai selamanya. Kepemimpinan adalah amanah untuk menyiapkan orang lain agar suatu hari mampu mengambil alih tanggung jawab.

Pemimpin yang sehat tidak takut kehilangan dominasi. Ia justru merasa berhasil ketika semakin banyak orang mampu berpikir, mengambil keputusan, dan memimpin tanpa harus selalu menunggu instruksinya.

Sebab ada perbedaan besar antara menjadi pemimpin yang dibutuhkan dan menjadi pemimpin yang membuat dirinya selalu dibutuhkan.

Yang pertama melahirkan kader.

Yang kedua melahirkan ketergantungan.

Karena itu, organisasi perlu berani mengajukan pertanyaan yang tidak selalu nyaman:

Apakah kita sedang menyiapkan generasi penerus, atau hanya memperpanjang kekuasaan generasi yang sama?

Jika setiap regenerasi selalu berakhir dengan kalimat, “Belum ada yang siap menggantikan,” mungkin masalahnya bukan karena tidak ada orang yang mampu.

Bisa jadi, organisasi itu sendiri yang tidak pernah memberi mereka kesempatan untuk menjadi mampu.

Regenerasi bukan sekadar mencari siapa yang paling pantas menggantikan pemimpin hari ini. Regenerasi adalah menciptakan proses agar selalu ada orang yang siap memimpin ketika pemimpin hari ini harus pergi.

Sebab organisasi yang sehat tidak dibangun agar bergantung pada satu generasi, apalagi satu figur.

Pemimpin sejati bukanlah mereka yang berhasil membuat organisasi tidak bisa berjalan tanpa dirinya. Pemimpin sejati adalah mereka yang berhasil membuat organisasi tetap berjalan, bahkan ketika dirinya sudah tidak ada.