
Pendampingan dilakukan melalui permainan, bernyanyi, menggambar, bercerita, aktivitas kelompok, Psychological First Aid (PFA), sharing kelompok, hingga penguatan spiritual. Kegiatan ini ditujukan untuk membantu penyintas, terutama anak-anak, menghadapi kecemasan dan trauma pascabencana.

Di Keuskupan Agung Ende, bantuan difokuskan bagi pengungsi di Kabupaten Nagekeo, Ngada, dan Ende. Adapun Keuskupan Labuan Bajo menyalurkan bantuan pangan dan hygiene kit ke sejumlah paroki terdampak.
Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC, mendukung penguatan respons kemanusiaan tersebut. Ia mengajak seluruh elemen Gereja Katolik Indonesia memperkuat kerja sinodal dan kolaborasi melalui jaringan Caritas Indonesia agar bantuan tersalurkan secara terarah, efektif, dan merata.
Ketua Badan Pengurus Caritas Indonesia, Mgr. Pius Riana Prapdi, menegaskan komitmen jaringan kemanusiaan Gereja Katolik untuk terus mendampingi para penyintas di lapangan.
Respons tersebut, menurutnya, merupakan wujud solidaritas kemanusiaan dengan mengedepankan kepekaan, solidaritas, dan subsidiaritas. Kebutuhan mendesak para pengungsi akan tetap menjadi prioritas selama masa tanggap darurat.
(Garuda Sirait)
Kontak Media & Information Centre
Caritas Indonesia (Yayasan Karina-KWI)
E-mail:info@karina.or.id|
website:www.karina.or.id

