Investor Soroti Persaingan dan Investasi AI

Di balik prospek bisnis yang positif, investor masih mencermati besarnya belanja infrastruktur AI yang dilakukan perusahaan teknologi, serta meningkatnya persaingan dari produsen chip asal China.

Reaksi pasar pun beragam. Saham Samsung sempat menguat hingga 8,4 persen, namun akhirnya ditutup turun 0,7 persen.

Sementara itu, saham pesaingnya, SK Hynix, terkoreksi 5,6 persen.

Analis Mirae Asset Securities, Kim Seok-hwan, menilai pasar mulai mempertanyakan keberlanjutan margin keuntungan tinggi yang dinikmati industri chip.

“Narasi cip telah melemah. Investor mempertanyakan berapa lama margin tertinggi mereka dapat dipertahankan,” ujarnya.

Laba Bisnis Chip Melonjak Tajam

Unit bisnis semikonduktor Samsung mencatat kinerja yang sangat kuat pada kuartal II.

Laba operasional divisi tersebut mencapai 89,2 triliun won, meningkat lebih dari 250 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, Samsung membukukan:

  • Laba operasional: 89,5 triliun won
  • Pendapatan: 171,5 triliun won, naik 130 persen dibandingkan tahun sebelumnya

Namun, tingginya harga chip justru memberikan tekanan terhadap bisnis perangkat seluler Samsung.

Divisi mobile perusahaan mengalami kerugian sebesar 700 miliar won, sekaligus mencatat rugi kuartalan pertama.

Analis eToro, Josh Gilbert, menilai kondisi tersebut menunjukkan keuntungan besar dari bisnis chip belum sepenuhnya berdampak positif terhadap seluruh lini usaha Samsung.

“Cip yang memperkaya satu sisi Samsung kini merugikan sisi lainnya,” katanya.

Ia menambahkan, Samsung kini semakin bergantung pada harga chip memori dan kesinambungan permintaan dari operator pusat data AI.

Di sisi lain, posisi kas bersih Samsung mencapai 167 triliun won hingga akhir Juni, mencerminkan kondisi keuangan perusahaan yang tetap solid.