JAKARTA – Mengadaptasi film horor sekelas Gonjiam: Haunted Asylum (2018) bukan perkara mudah. Film asal Korea Selatan tersebut telah lama dianggap sebagai salah satu film found footage terbaik setelah The Blair Witch Project (1999) dan Paranormal Activity (2007).
Karena itu, keputusan sutradara Anggy Umbara bersama penulis Lele Laila menggarap 402 Rumah Sakit Angker Korea (2026) menjadi langkah yang cukup berani. Terlebih, mereka tidak sekadar membuat ulang cerita, tetapi juga menambahkan durasi dan sejumlah elemen baru yang tidak terdapat dalam film aslinya.
Hasilnya menghadirkan pengalaman yang bisa diterima sebagian penonton, namun juga memunculkan sejumlah catatan, terutama bagi penggemar Gonjiam.
Produksi Berkualitas dan Visual yang Menjanjikan
Dari sisi teknis, 402 Rumah Sakit Angker Korea menunjukkan kualitas produksi yang patut diapresiasi.
Desain rumah sakit terbengkalai tampil meyakinkan dengan detail properti yang mendukung suasana horor. Efek visual dan fenomena paranormal juga digarap cukup serius sehingga mampu membangun atmosfer mencekam.
Berbeda dengan sebagian film horor Indonesia yang cenderung mengandalkan pencahayaan minim, film ini menghadirkan gambar yang lebih terang dan tajam. Pendekatan tersebut terasa sesuai dengan latar cerita yang mengambil era konten digital modern.
Musik latar pun digunakan secara lebih hemat. Alih-alih terus-menerus mengiringi adegan, scoring hanya muncul pada momen penting sehingga tidak berlebihan dalam membangun ketegangan.
Tetap Menghormati Film Aslinya
Sebagian besar alur cerita masih mempertahankan struktur yang dibangun dalam Gonjiam: Haunted Asylum. Banyak adegan ikonik yang direkonstruksi sebagai bentuk penghormatan terhadap karya original.
Pendekatan tersebut membuat penggemar film aslinya masih dapat mengenali identitas cerita meskipun telah mengalami sejumlah penyesuaian.
Unsur Indonesia Terasa Dipaksakan
Salah satu kelemahan terbesar film ini justru muncul dari upaya menghadirkan identitas Indonesia.
Kemunculan ritual jelangkung lengkap dengan batok kelapa, kain, hingga mantra berbahasa Korea terasa kurang menyatu dengan latar cerita yang sepenuhnya berlangsung di Korea Selatan.
Alih-alih memperkuat identitas lokal, elemen tersebut justru terkesan dipaksakan dan mengganggu konsistensi cerita.
Padahal, kehadiran karakter asal Indonesia sudah cukup menjadi representasi tanpa harus memasukkan unsur budaya yang sulit dijelaskan secara logis dalam konteks cerita.
Penambahan Cerita Menimbulkan Pertanyaan Baru
Film ini juga memperluas cerita dibandingkan versi original dengan memasukkan unsur kultus sesat dan beberapa twist tambahan.
Secara konsep, langkah tersebut menarik karena memberikan materi baru bagi penonton yang sudah mengenal Gonjiam. Namun pengembangannya belum terasa matang.
Alih-alih menjawab misteri, beberapa tambahan justru memunculkan pertanyaan baru mengenai asal-usul teror dan identitas makhluk yang menghuni rumah sakit tersebut.
Salah satu kekuatan Gonjiam justru terletak pada misteri yang dibiarkan tetap samar sehingga mampu mempertahankan rasa takut penonton.
Gaya Found Footage Kurang Meyakinkan
Sebagai film found footage, salah satu aspek yang cukup disayangkan adalah visual yang justru terlihat terlalu bersih.
Teknik pengambilan gambar dan proses penyuntingan terasa terlalu rapi sehingga mengurangi kesan dokumentasi spontan yang menjadi ciri khas genre tersebut.
Beberapa efek digital juga membuat film lebih terasa seperti produksi studio dibanding rekaman nyata yang ditemukan setelah sebuah peristiwa mengerikan.
Padahal, kekuatan utama genre found footage terletak pada kesan realistis dan mentah yang mampu membuat penonton percaya bahwa kejadian tersebut benar-benar terjadi.
Akting Belum Maksimal
Penampilan para pemain belum sepenuhnya mampu mengangkat intensitas horor.
Reaksi para karakter terhadap berbagai kejadian supranatural masih terasa kurang natural sehingga ketegangan emosional tidak selalu berhasil tersampaikan kepada penonton.
Layak Ditonton?
Terlepas dari berbagai kekurangannya, 402 Rumah Sakit Angker Korea tetap menawarkan pengalaman horor yang cukup menarik, terutama bagi penonton yang belum pernah menyaksikan Gonjiam: Haunted Asylum.
Film ini juga menunjukkan bahwa industri perfilman Indonesia semakin berani menggarap proyek horor dengan skala produksi yang lebih besar.
Namun bagi penggemar film aslinya, adaptasi ini kemungkinan belum mampu menyamai atmosfer mencekam dan kesederhanaan misteri yang menjadi kekuatan utama Gonjiam.
Rating: 3,5/5
Kelebihan:
- Produksi dan desain set berkualitas.
- Sinematografi lebih terang dan nyaman ditonton.
- Penggunaan musik latar tidak berlebihan.
- Tetap mempertahankan sebagian besar struktur cerita asli.
Kekurangan:
- Unsur budaya Indonesia terasa dipaksakan.
- Pengembangan cerita tambahan kurang kuat.
- Gaya found footage terlalu bersih dan kurang realistis.
- Akting pemain belum sepenuhnya membangun atmosfer horor.

