Pendekatan tersebut membuat penggemar film aslinya masih dapat mengenali identitas cerita meskipun telah mengalami sejumlah penyesuaian.
Unsur Indonesia Terasa Dipaksakan
Salah satu kelemahan terbesar film ini justru muncul dari upaya menghadirkan identitas Indonesia.
Kemunculan ritual jelangkung lengkap dengan batok kelapa, kain, hingga mantra berbahasa Korea terasa kurang menyatu dengan latar cerita yang sepenuhnya berlangsung di Korea Selatan.
Alih-alih memperkuat identitas lokal, elemen tersebut justru terkesan dipaksakan dan mengganggu konsistensi cerita.
Padahal, kehadiran karakter asal Indonesia sudah cukup menjadi representasi tanpa harus memasukkan unsur budaya yang sulit dijelaskan secara logis dalam konteks cerita.
Penambahan Cerita Menimbulkan Pertanyaan Baru
Film ini juga memperluas cerita dibandingkan versi original dengan memasukkan unsur kultus sesat dan beberapa twist tambahan.
Secara konsep, langkah tersebut menarik karena memberikan materi baru bagi penonton yang sudah mengenal Gonjiam. Namun pengembangannya belum terasa matang.
Alih-alih menjawab misteri, beberapa tambahan justru memunculkan pertanyaan baru mengenai asal-usul teror dan identitas makhluk yang menghuni rumah sakit tersebut.
Salah satu kekuatan Gonjiam justru terletak pada misteri yang dibiarkan tetap samar sehingga mampu mempertahankan rasa takut penonton.
Gaya Found Footage Kurang Meyakinkan
Sebagai film found footage, salah satu aspek yang cukup disayangkan adalah visual yang justru terlihat terlalu bersih.

