JAKARTA — Produksi minyak mentah Uni Emirat Arab (UEA) mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Juni 2026 setelah Abu Dhabi meningkatkan produksi secara agresif dibandingkan produsen lain, menurut laporan Badan Energi Internasional (IEA).
Peningkatan produksi tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memulihkan pasokan energi global yang sempat terganggu akibat konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel sejak akhir Februari 2026, sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency, Minggu (12/7/2026).
Berdasarkan laporan bulanan Oil Market Report yang diterbitkan IEA, UEA memproduksi rata-rata 4,1 juta barel per hari (bph) sepanjang Juni.
Angka tersebut melampaui rekor sebelumnya sebesar 4 juta bph yang dicapai saat perang harga minyak antara Arab Saudi dan Rusia pada 2020.
Produksi Meningkat Setelah Keluar dari OPEC
Lonjakan produksi terjadi setelah UEA resmi keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) pada akhir April 2026.
Keputusan tersebut memungkinkan Abu Dhabi menjalankan rencana ekspansi produksi tanpa lagi terikat kuota produksi yang ditetapkan organisasi tersebut.
Untuk mendukung peningkatan ekspor, pemerintah UEA mengerahkan armada kapal tanker miliknya serta menyewa kapal tambahan, termasuk kapal yang dioperasikan Sinokor Group asal Korea Selatan.
Sejumlah kapal juga dilaporkan berlayar dengan Automatic Identification System (AIS) atau Sistem Identifikasi Otomatis dalam kondisi dimatikan, sehingga pergerakannya lebih sulit dilacak.
Ketegangan di Selat Hormuz Kembali Meningkat
Sebagian besar peningkatan produksi UEA terjadi sebelum serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz kembali memanas pada pekan ini.
Situasi tersebut kembali mengganggu aktivitas pelayaran di salah satu jalur distribusi minyak paling strategis di dunia.
Sebelumnya, pemulihan pasokan minyak dari kawasan Teluk sempat diiringi rencana pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Kondisi itu sempat meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi kelangkaan pasokan sekaligus memunculkan indikasi kelebihan pasokan (oversupply), sehingga sebagian lonjakan harga minyak akibat perang mulai terkoreksi.
Namun, ketegangan kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan gencatan senjata secara efektif telah berakhir menyusul aksi saling serang yang kembali terjadi.
Pasukan AS dilaporkan menyerang sejumlah lokasi di Iran selama dua hari berturut-turut, sementara Teheran melancarkan serangan ke Bahrain dan Kuwait.
Harga Minyak Berfluktuasi
Ketegangan geopolitik tersebut sempat mendorong harga minyak mentah Brent menembus US$80 per barel pada awal pekan.
Namun, hingga Jumat (10/7/2026), harga kembali turun ke kisaran US$76 per barel.
Arab Saudi dan Kuwait Juga Tingkatkan Produksi
Selain UEA, sejumlah produsen minyak utama di kawasan Teluk juga mencatatkan kenaikan produksi sepanjang Juni, meski masih berada di bawah level sebelum konflik.
Menurut IEA:
- Arab Saudi memproduksi sekitar 7,3 juta bph, meningkat sekitar 900 ribu bph dibandingkan Mei.
- Kuwait meningkatkan produksi menjadi rata-rata 1,4 juta bph.
- Irak mencatat produksi sekitar 2 juta bph.
Meski produksi dan ekspor minyak mentah mulai pulih, aktivitas kilang minyak di kawasan Teluk masih berlangsung lebih lambat dibandingkan sebelum perang.
“Ekspor produk minyak bumi sulingan tetap berada di bawah setengah dari level sebelum perang,” ungkap IEA.
Fakta Singkat
- Produksi minyak UEA Juni 2026 mencapai 4,1 juta barel per hari, tertinggi sepanjang sejarah.
- Rekor sebelumnya sebesar 4 juta bph terjadi pada 2020.
- UEA keluar dari OPEC pada akhir April 2026.
- Harga minyak Brent sempat menembus US$80 per barel sebelum turun ke kisaran US$76.
- Arab Saudi memproduksi 7,3 juta bph, Kuwait 1,4 juta bph, dan Irak 2 juta bph.
- IEA menyebut ekspor produk minyak olahan masih berada di bawah setengah level sebelum konflik.

