Kenduri Sko Dinilai Momentum Bersejarah
Al Haris menilai pelaksanaan Kenduri Sko tahun ini memiliki nilai historis karena merupakan penyelenggaraan pertama setelah Sungai Penuh berstatus sebagai kota.
Menurutnya, kegiatan serupa terakhir kali digelar sekitar 18–19 tahun lalu ketika wilayah tersebut masih menjadi bagian dari Kabupaten Kerinci.
Ia berharap momentum tersebut mampu membangkitkan kembali semangat pelestarian adat, terutama di kalangan generasi muda.
Gubernur juga memberikan apresiasi kepada tokoh adat, para sesepuh, serta masyarakat yang terus menjaga keberlangsungan tradisi.
“Kita ini satu — kita satu Sakti Alam Kerinci,” ucapnya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga persatuan dan tidak terpecah oleh perbedaan pandangan, termasuk akibat dinamika politik maupun kontestasi pilkada.
Dorong Sinergi dan Pelestarian Adat
Al Haris juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah daerah di wilayah Kerinci dan Sungai Penuh.
Ia mengapresiasi hubungan baik antara Wali Kota Sungai Penuh dan Bupati Kerinci yang dinilai mampu mendukung percepatan pembangunan tanpa menimbulkan persaingan antardaerah.
Menurutnya, Kenduri Sko menjadi momentum untuk memperkuat rasa memiliki terhadap budaya daerah sekaligus membentengi masyarakat dari dampak negatif globalisasi, digitalisasi, dan perkembangan teknologi informasi.
Di akhir sambutannya, Al Haris mengimbau agar rumah adat beserta empat simbol adat dikelola oleh satu lembaga, yakni Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci, guna menjaga keberlangsungan nilai-nilai budaya.

