Dampak El Nino Diperkirakan Berlangsung Jangka Panjang

Nyong menilai dampak El Nino tidak akan berhenti setelah satu musim. Kekeringan yang melanda sebagian kawasan Sahel dalam beberapa tahun terakhir berpotensi berlanjut.

Ia mencontohkan pengalaman Mozambik pasca-Topan Idai pada 2019 yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan kondisi ekonomi dan infrastruktur.

Anggaran Kesehatan dan Pendidikan Berisiko Terpangkas

Nyong menyebut sejumlah negara Afrika kini menghadapi apa yang disebut sebagai perangkap pembiayaan iklim.

Menurutnya, keterbatasan anggaran membuat pemerintah terpaksa mengalihkan dana dari sektor kesehatan, pendidikan, maupun pembangunan infrastruktur untuk menangani dampak bencana.

Pengalaman El Nino periode 2023–2024 menunjukkan besarnya risiko tersebut. Saat itu, Afrika bagian selatan dilanda kekeringan parah, sedangkan Afrika Timur mengalami hujan lebat dan banjir.

Peristiwa tersebut memicu gagal panen dalam skala luas, kenaikan harga pangan, hingga rekor kenaikan muka air laut di sepanjang pesisir Afrika.

AfDB memperkirakan petani di Afrika kehilangan pendapatan hampir US$330 juta tahun ini. Sektor perikanan juga diperkirakan terdampak akibat meningkatnya suhu laut dan intensitas badai.

“Ketika guncangan ini terjadi, negara-negara mundur dua langkah,” ujar Nyong.

“Kami tidak ingin negara-negara kami jatuh ke dalam kemiskinan,” lanjutnya.

AfDB Peringatkan Potensi Migrasi Massal

Tekanan kemanusiaan diperkirakan meningkat apabila El Nino Super benar-benar terjadi.

AfDB mengidentifikasi Sudan, Sudan Selatan, Republik Demokratik Kongo, Somalia, Mali, Burundi, dan Nigeria sebagai negara-negara yang berpotensi mengalami dampak paling berat.

“Ketika El Nino ini datang, akan terjadi migrasi massal,” kata Nyong.

Ia memperkirakan harga jagung, yang menjadi makanan pokok di banyak negara Afrika, dapat meningkat hingga dua kali lipat.

“Anda tidak akan tetap tinggal. Anda akan berpindah,” tuturnya.

Keterbatasan sumber daya serta meningkatnya persaingan memperebutkan lahan penggembalaan dan sumber air juga dinilai dapat memperburuk kerentanan di sejumlah wilayah.

AfDB memperkirakan kerugian sektor pertanian mencapai sekitar US$327 juta, sedangkan produktivitas sektor perikanan berpotensi turun antara 1 hingga 4 persen.

Nyong menegaskan negara-negara Afrika perlu memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim sebelum bencana terjadi. Upaya tersebut akan menjadi salah satu pembahasan utama dalam perundingan iklim global yang dijadwalkan berlangsung di Turki pada November mendatang.

“Lebih murah membangun pagar di sekitar jurang daripada membayar ambulans mahal untuk menunggu orang-orang jatuh di bawah.”

“Jadi, mari kita bangun pagar,” pungkas Nyong.