Pada tahun lalu, kompleks Ras Laffan menyumbang hampir seperlima pasokan LNG global. Namun, fasilitas tersebut sebagian besar tidak beroperasi selama lebih dari tiga bulan akibat penutupan efektif Selat Hormuz yang menghambat aktivitas ekspor gas dalam skala besar.

QatarEnergy Mulai Persiapan Sejak April

Menurut laporan Bloomberg, QatarEnergy telah memulai berbagai langkah persiapan sejak April lalu, termasuk melakukan pengujian peralatan dan pemeliharaan fasilitas guna mempercepat proses pemulihan operasional.

Sejumlah unit produksi juga disebut tetap beroperasi dalam kapasitas terbatas untuk memenuhi kebutuhan negara-negara tetangga sekaligus menjaga kesiapan fasilitas ketika produksi kembali ditingkatkan.

Target pemulihan yang disusun QatarEnergy dinilai lebih cepat dibandingkan perkiraan sejumlah analis dan pelaku pasar energi sebelumnya.

Selat Hormuz Berpotensi Dibuka Kembali

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Selat Hormuz berpotensi dibuka kembali pada Jumat (19/6), bertepatan dengan rencana penandatanganan kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss.

Meski demikian, situasi keamanan di kawasan tersebut masih menjadi perhatian. Seorang pejabat senior Amerika Serikat mengingatkan bahwa ranjau yang tersebar di wilayah perairan itu masih harus dibersihkan sebelum jalur pelayaran dapat dinyatakan sepenuhnya aman.

Jika pasokan LNG Qatar kembali pulih, kondisi tersebut diperkirakan dapat membantu meredakan tekanan pasokan energi global yang dalam beberapa bulan terakhir mendorong harga gas di Eropa dan Asia tetap berada pada level tinggi.