Jakarta – Qatar bersiap meningkatkan kembali produksi gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) secara bertahap setelah Selat Hormuz kembali dibuka untuk pelayaran internasional.

Mengutip laporan Bloomberg yang dilansir Anadolu Agency, perusahaan energi milik negara, QatarEnergy, telah memberi informasi kepada para pembeli bahwa produksi LNG berpotensi kembali mencapai sekitar 50 persen kapasitas dalam satu bulan setelah jalur pelayaran di Selat Hormuz dinyatakan aman.

“Produksi diperkirakan dapat mencapai sekitar 50 persen kapasitas dalam satu bulan dan meningkat menjadi sekitar 80 persen dalam dua bulan setelah jalur pelayaran kembali aman,” ujar sumber yang mengetahui rencana tersebut kepada Bloomberg.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Qatar maupun QatarEnergy terkait target pemulihan tersebut.

Pemulihan Produksi LNG Qatar Dilakukan Bertahap

Bloomberg melaporkan bahwa sebagian kapasitas produksi yang masih tersisa diperkirakan memerlukan waktu lebih lama untuk pulih sepenuhnya akibat dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan rudal Iran pada Maret lalu.

Sebelumnya, Qatar menghentikan operasional kompleks LNG Ras Laffan pada pekan pertama perang setelah terjadinya serangan tersebut. Ras Laffan dikenal sebagai kompleks produksi LNG terbesar di dunia dan memiliki peran penting dalam rantai pasok energi global.

Penutupan fasilitas itu menyebabkan sejumlah pengiriman LNG dibatalkan dan turut memengaruhi reputasi Qatar sebagai salah satu pemasok LNG paling andal di pasar internasional.