“Kita tidak bilang, ‘Oh, seorang remaja berhasil mendapatkan minuman keras, jadi tidak perlu melarang penjualan alkohol untuk anak-anak.’ Kita tidak melakukan itu, bukan?” katanya.
“Hukum kita adalah aturan, tapi juga cerminan nilai-nilai kita,” imbuhnya.
Pemerintah Inggris menargetkan proses legislasi rampung sebelum akhir tahun ini. Jika berjalan sesuai rencana, larangan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun akan mulai diberlakukan pada musim semi tahun depan.
Starmer juga menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap perkembangan teknologi maupun kecerdasan buatan (AI).
“Saya tidak akan pernah menerima argumen bahwa demi masa depan AI dan teknologi, kita harus membiarkan anak-anak kita terekspos seperti yang terjadi selama ini,” tuturnya.
Pengumuman kebijakan itu disampaikan di hadapan sejumlah pegiat yang selama ini mengampanyekan pembatasan media sosial bagi anak-anak, termasuk para orang tua yang kehilangan anak mereka.
Berdasarkan survei pemerintah Inggris, sembilan dari sepuluh orang tua mendukung penerapan batas usia minimum 16 tahun untuk mengakses platform media sosial.

