Akibatnya, muncul berbagai gejolak sosial seperti kepanikan pasar, protes akibat naiknya harga kebutuhan pokok, dan meningkatnya ketimpangan ekonomi. Dari sini kita dapat katakan bahwa dari Teori Cultural Lag ketika perubahan ekonomi berlari terlalu cepat meninggalkan kesiapan sosial dan kelembagaan masyarakat.
Pelemahan nilai Rupiah terhadap Dolar AS bukan hanya menjadi permasalahan ekonomi, tetapi juga memengaruhi kehidupan sosial dan dinamika politik Indonesia. Dampaknya akan merambat ke berbagai sektor dan berpotensi mengubah perilaku masyarakat, hubungan antara negara dan warga, hingga stabilitas politik.
*Dampak Sosial dan Politik oleh pelemahan nilai Rupiah*
1. Menurunnya Daya Beli Masyarakat
Pelemahan Rupiah menyebabkan harga bahan baku dan barang impor menjadi lebih mahal. Hal ini mengakibatkan harga berbagai kebutuhan pokok, elektronik, obat-obatan, hingga bahan bakar dapat meningkat. Kenaikan harga tersebut menurunkan daya beli masyarakat, terutama kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah.
2. Meningkatnya Ketimpangan Sosial
Kelompok masyarakat yang memiliki aset dalam mata uang asing atau bekerja di sektor ekspor mungkin memperoleh keuntungan dari pelemahan Rupiah. Sebaliknya, masyarakat yang bergantung pada pendapatan tetap justru mengalami penurunan kesejahteraan. Kondisi ini dapat mempertebal kesenjangan sosial dan ekonomi.
3. Bertambahnya Angka Kemiskinan
Ketika harga kebutuhan pokok naik sementara pendapatan tidak meningkat secara proporsional, sebagian masyarakat dapat terdorong masuk ke dalam kategori miskin atau rentan miskin.

