Polisi Klaim Penangkapan Dilakukan Setelah Terjadi Perusakan
Polrestabes Surabaya menyatakan pihaknya mengerahkan 320 personel untuk mengamankan jalannya aksi sejak sore hari.
Menurut Luthfie, aparat telah memberikan ruang kepada massa untuk menyampaikan aspirasi. Namun situasi disebut mulai memanas setelah pukul 18.00 WIB ketika terjadi aksi perusakan dan pelemparan.
“Namun sampai setelah magrib, mereka memprovokasi dengan melakukan perusakan. Dan kita imbau untuk berhenti melakukan perusakan, tapi mereka terus melakukan perusakan dan pelemparan, sehingga kita juga menilai bahwa itu selain membahayakan masyarakat, juga membahayakan keselamatan mereka sendiri,” ujarnya.
Aparat kemudian melakukan pendorongan massa secara bertahap menggunakan pasukan Dalmas dan Pasukan Anti Huru-hara hingga menuju kawasan Bundaran Air Mancur Balai Pemuda.
Meski demikian, Luthfie mengklaim tidak ada korban luka dalam proses pembubaran aksi tersebut. Ia juga menegaskan kendaraan water cannon tidak digunakan untuk membubarkan massa, melainkan untuk memadamkan api yang dinyalakan saat demonstrasi.
“Insyaallah enggak ada. Insyaallah juga pendorongan kita tidak melakukan water cannon, juga hanya untuk memadamkan api. Kita dorong pelan-pelan sampai dengan kendaraan ini. Insyaallah semuanya dalam kondisi sehat,” ucapnya.
Aksi #IndonesiaSekarat Bawa 11 Tuntutan
Sebelumnya, sekitar seratusan orang dari berbagai elemen masyarakat sipil yang tergabung dalam Front Anti Kapitalisme menggelar aksi #IndonesiaSekarat di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya.
Peserta aksi terdiri dari mahasiswa, buruh, pelaku UMKM, dan sejumlah kelompok masyarakat lainnya.
Aksi dimulai dengan longmarch dari Monumen Kapal Selam di Jalan Pemuda menuju Gedung Negara Grahadi di Jalan Gubernur Suryo.
Setibanya di lokasi, massa membentangkan spanduk berukuran besar di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), kemudian menggelar orasi dan membakar sejumlah pakaian serta barang bekas di tengah jalan.
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan 11 tuntutan, yakni:

